Deevann

Moshi-moshi...^^.
Not musician-not teenage anymore-not yet a mom-not yet graduate from a college-need much water-omnivora-like jasmine-like cactus- not yet have both of them.

Permalink

Percaya padamu tanpa mengingini #nowdoing

Permalink

Pura-Pura

Jangan buatku berubah rasa

Membalik peduliku dengan posesif

Menambal sakitku dengan sampah

Kecuali jika kau memang suka kebusukan

Jangan buatku berubah pikiran

Menerima  damaiku dalam sekammu

Menjahit lukaku dengan baja panas

Kecuali  jika sengaja kau ingin membuatku bolong

Meloloskan semua berlian-berlian kecil yang coba kukumpulkan

Yang coba kutancap-tancapkan di setiap sudut hatiku

Jangan buatku berubah pandang

Menggeser percayaku lewat picisanmu

Terima senyumku dalam sangkar emas putihmu

Jangan, Jangan sebut itu sangkar emas putih

Karena sangkar putih terlalu kuat untuk menjadi kebanggaanmu

Biarkan aku memberitahumu sekali ini

Sangkarmu yang itu bukan emas putih

Tapi….masih aluminium yang mencoba  berpura-pura menjadi emas putih

Permalink

Ban

Harusnya kita tidak njomplang

Berat di sana,

Enteng-enteng saja di sini

Atau sebaliknya.

Menggelembung di sana,

Eh kempes di sini

Atau kita memang sedang bermain ban?

Yang bisa diisi dengan sesuatu bernama angin

Kemudian akan menjadi sangat berharga

Dan dikatakan sebagai ban.

Lalu di lain waktu…Saat berputar,

Asyik bergelinding

Tiba-tiba tertancap paku atau kawat

Kemudian kempes, menciut

Mengumbar dengan asyik isi di dalamnya

“sssssshhhshhhhhshhhh”

Ban telah bocor!

Apa hanya paku?

Tidak…Kau lihat di atas sana? Yang bersinar menyilaukan mata kita itu?

Panasya bisa membuat udara meluaskan dirinya dalam ban

Makin sesak karena bejubel di dalam ban

Mengembang seperti roti

Tapi ban terlalu sempit untuk pemuaiannya

Lalu mengumbar dengan asyik isi di dalamnya

“duarrrrrrrrrrrrr”

Ban mati mengenaskan, begitu mengejutkan

Atau ah…saat ban yang gemuk meluncur ke jalan

Lubang sana, lubang sini

Terantuk-antuk batu tumpul

Menggesek aspal yang halus

Lalu mengumbar dengan asyik isi di dalamnya

“bussss….busss…bussss”

Pelan tapi pasti ban telah mati

Ban mengembang, ban mengempis

Itu kah permainan kita saat ini, hei kau-yang-suka-umbar-kata-manis?

Permalink

‘siapa’

Hujan mungkin tidak cukup deras untuk menghanyutkan

Atau mungkin justru api yang tidak cukup panas untuk membakar habis?

Bisa juga malah aku yang tidak tahu apa-apa

Tentang siapa yang berdiri di sana, menatap ke depan

Tepat di jalurku melangkah

Sialnya, aku masih berada di titik yang sama

Sedang ‘siapa’ itu melangkah semakin ke depan—-

—-Tak sekalipun ku tanya siapa dirimu

—-Meski beberapa lama pernah bersisian

—-Karena, aku masih berada di titik yang sama

—-Sedang ‘siapa’ itu melangkah semakin ke depan

Angin mungkin tidak terlalu kencang meniupkan

Atau mungkin tanah yang tidak terlalu gembur untuk menelan?

Menelan tetesan madu yang menyembur tidak beraturan dari putik 

Meniupkan berjuta helai mahkota bunga dan harum yang menyeruak tak tahu arah

Tepat di jalurku melangkah

Sialnya, aku masih di titik yang sama

Sedangkan ‘siapa’ itu melangkah semakin ke depan—-

Permalink

thisisnotaquote//2

Saat kita tidak percaya pada kesempatan kedua,ketiga atau seterusnya, sebenarnya kita telah melewatkan satu, dua, tiga, atau banyak kesempatan

Permalink

Filosofi Nggeser

Tanggal 13 Juni 2011 adalah awal dari ujian semester genap di kampus saya dan kampus-kampus tetangga sekitarnya. Ujian yang kami laksanakan tidak seperti ujian waktu kami masih duduk di bangku sekolah pastinya—bangkunya sih gak jauh beda, cuma beda istilah—

Tidak berurutan seperti ujian sekolah. Bahkan, ujian kami bisa digantikan dengan tugas-tugas lain sebagai pengalihan karena dosen terlalu sibuk untuk sekedar membuat soal dan mengoreksinya—maaf, kalau itu yang terlihat di kalangan mahasiswa—akhirnya dosen pun mengambil jalan untuk meninggalkan mahasiswanya dengan semua bala tentara andalan (baca: tugas).

*berhenti dulu* sebenarnya apa sih yang mau diomongin? banyak! banyaaaaaak banget. Tapi cuma seputar ujian—bukan bahas jawaban soal di ujian, gw kagak bakal mampuh!*dongdong*—.

Sehubungan dengan pemberitaan yang merebak di masyarakat baru-baru ini, saya sebagai mahasiswa keho yang sok-sokan suka pegang laptop ((untuk update lagu)) *ya Ellah…tau kelakuan gw kayak gini, bisa disita ni laptop ma abang yang lg di Jakarta* mengikuti kasus ini —kasus yang sebenarnya sudah sangat kawakan dalam kehidupan pendidikan saya sendiri—. Memberitakan seorang ibu yang melaporkan praktek sontek saat ujian nasional di sekolah dasar tempat anaknya dididik. *ngetik istilah “sontek”, saya jd inget ma temen SD. Namanya Susanti tp panggilannya sontek yang secara pengejaannya deket banget kekerabatannya ma istilah “softex” ya gak seh?*

Bicara tentang menyontek memang seperti membicarakan tentang fenomena merokok. Yang manis-manis beracun. Yang diam-diam menghanyutkan. Yang pahit-pahit menggetarkan dan sejumlah “Yang..” lainnya, Yang tidak diketahui secara pasti kapan semua itu dimulai karena prosesnya terlalu cepat, singkat, mendebarkan. Sesuatu yang tidak baik, tapi justru sering kali justru itulah yang selalu mencairkan suasana tinggi hati antara satu orang dengan yang yang lainnya (Untuk yang ini sepertinya membutuhkan penjelasan lebih).

Tapi sebelumnya, gak ada jeleknya mengetahui kasus ibu yang tadi sudah saya singgung sebelumnya lewat kompasiana di bawah ini. Sembari itu, saya mau kabur dulu ke MS. Word karena sebuah daftar PKM—sebagai tugas pengganti ujian saya hari senin—telah menunggu untuk disesaikan. -_-!!!! Silahkan nikmati dan hayati dulu kasusnya ya… 

http://edukasi.kompas.com/read/2011/06/15/09474924/Ibu.Siami.Si.Jujur.yang.Malah.Ajur

Permalink

Epi.6 is where I go

Menuntaskan nonton dorama “Asuko March” sampai episode 6 di saat gerhana bulan total—bisa tebak kan jam berapa?—yang jelas sih subuh buta banget :D.

Untuk download gratis dan nonton streamingnya bisa kunjungi site http://www.dramacrazy.net/japanese-drama/asuko-march/

Soundtrack utama dorama ini dibawain oleh Funky Monkey Babys. Sebuah grup musik hip hop yang terdiri dari tiga anggota. Dua orang sebagai vokalis dan satu di antaranya adalah DJ dari Chemical (yang satu ni lum tau apaan). 

Mereka terbentuk tahun 2004. Konon katanya, mereka suka melibatkan artis-artis terkenal Jepang untuk video klip mereka selama ini. Penggemar Funky Monkey Babys menamakan diri mereka sebagai Fanmon—nunjuk idung sendiri—hahahaks.

Bagi yang udah nonton Asuko March, pasti suka ma soundtracknya, Soredemo Shinjiteru—mbuh artinya apaan, anyone help to translet?—. Sebagai orang awam yang suka ngeliat awan—opo hubungane?—Menurut saya, lagunya bikin semangat, sesuai ma cerita dalam Asuko March sendiri. Nah, bagi temen-temen yang belum nonton, agak gak tertarik tapi cukup tergelitik, ato bagi yang tertarik tapi bingung nyari ke mana lagunya…coba deh download gratis di http://www.megaupload.com/?d=IEVZLPEK. Untuk siapa aja yang merasa bimbang ma tempatnya sekarang (entah sekolah, kos-kosan, unversitas, tempat kerja, etc) dan masih bertanya-tanya kepada langit, diri sendiri, cicak-cicak di dinding, semut merah yang berbaris di dinding, ato kepada rumput yang bergoyang…I really recommended :). Sayangnya, saya belum mendapatkan lirik dan artinya, meskipun sudah berusaha mengacak-ngacak mbah google, mungkin karena dorama ini masih sangat baru, jadi belum banyak postingannya. Sabar aja lah yaw. Sampai jumpa!!

Permalink
[Flash 10 is required to watch video]
Permalink

Pagi yang menyenangkan ketika saya awali dengan cerita tentang ibu yang selalu repot ngurus berbagai macam hal. Sempat juga tadi pagi menerima telefon dari bapak dan kakak laki-laki saya dari seberang nun jauh di mana. Rasanya begitu lengkap, tidak kurang satu apapun. Ketika sudah waktunya, saya berangkat kuliah *lebih pagi dari biasanya* karena begitu semangat. Sampai depan kampus, tidak ada aroma tidak sedap yang tercium. Begitu masuk kelas, teman saya panik karena—-sulit sekali mendiskripsikan—-terlalu kacau, begitu cepat, sangat terekam dan menikam. Tidak tahu harus berkata apa setelah melihat kenyataan yang di luar dugaan dan tidak terprediksi itu. Tidak ada jalan keluar selain menguatkan diri dengan mengingat bahwa kesabaran bisa merobohkan segalanya. Termasuk batu paling keras sekalipun.

Suatu saat nanti semua akan terjawab. Tentang legowo karena menafsirkan kejadian tabu dengan sudut pandang lebih teduh. Tentang ketenangan karena tidak menyimpan marah atau dendam. Tentang iman karena tidak memutus silaturahmi. Tentang kedisiplinan karena bisa tepat merasukkan nilai-nilai yang ingin ditanamkan ke dalam hati. Tentang kebijaksanaan karena menerima kedinamisan dunia yang menggerus kekolotan dan merubahnya menjadi bebas terkendali. Tentang kepedulian karena mau mendengar dengan nurani. Barang sejenak. Akan ada secercah kesadaran yang tersemai karena memaafkan hal terberat yang melawan dan meruntuhkan satu prinsip fundamental. Meski tidak sekarang. Tapi semua akan tersemai pelan-pelan sejak hari ini dan terangkum dengan baik. Sekalipun saat semua itu terjadi, anda tidak akan mendapati saya ke mana pun anda mencari, selain di hati anda. Sekalipun saya tidak akan melihat setetes pengampunan anda di tempat saya dilahirkan. Sekalipun saat anda tersentuh, anda tidak akan mendapati juluran tangan kasar dan dekil lagi dari seseorang yang pernah menangis di ruangan anda karena secuil cita-citanya dalam hati telah anda gempur habis-habisan. Saya yakin air jernih dalam samudera anda masih terbentang sangat luas dan banyak untuk menghapus noda yang akan anda rasakan. Memang tidak hari ini…tapi mungkin besok, besoknya, besok besoknya lagi atau besok—entah kapan—saat saya harus pulang ke tempat sesungguhnya dan hanya mampu bersujud syukur dari sana. 

Permalink

(si)mbok

Masih Mei akhir, tapi rasanya dari bulan Maret kemaren kayak udah Ramadhan aja. Menurut jadwal, tahun ini Ramadhan akan jatuh pada bulan Agustus. Itung, masih berapa lama lagi dari sekarang? Kira-kira 68 hari lagi. Nuansa Ramadhan *padahal masih pra* terasa banget di lingkungan tempat saya nde-kos *liat peta, deket merapi*. Entah saya yang sedang terganggu jiwanya atau justru karena saya dapat wangsit lebih awal daripada orang lain, tapi begitulah kenyataan perasaan saya. Atau mungkin gara-gara tempat ndekos saya deket masjid ya? Tapi nggak ngaruh juga tu ma masjid deket rumah (baca: Sragen). Cuma kalo saya nyampe ke Jogja prasangka seperti itu muncul begitu saja. Padahal hanya lewat jalan yang biasa saya lalui ketika berangkat dan pulang kampus. Saya sempat tanya juga sama beberapa teman,”Ngrasa kayak Ramadhan nggak sih?” dan teman saya menjawab,”Nggak tu, biasa aja..kenapa emang?” lalu saya tanggapi,”Nggak kenapa-napa, hawanya bikin inget Ramadhan…”. Berulangkali saya memastikan tanggal dan bulan Masehi yang tertempel rapi di dinding kamar, tetap saja perasaan itu muncul. Agak aneh ato malah horor? Nggak paham deh, yang penting saya bahagia dengan perasaan tersebut. Ya, meski hari-hari Ramadhan sekarang tidak se-mengesan-kan seperti lima atau enam tahun yang lalu, tapi saya selalu merindukannya. Pulang kampung, sahur di rumah dengan mata yang dipaksa bangun oleh ibu. Berangkat tarawih dengan pengantar sedikit “kicauan” dari ibu, dan ah ya…kolak pisang bikinan ibu—dah berapa tahun ya nggak bikin?

Ibu tu kayak wonder women. Pagi-pagi bangun, bersih-bersih dapur—gak bisa liat dapurnya berantakan—masak alakadarnya, pukul 06.00-06.30 sudah dipastikan nggak ada di rumah. Kabur? Iya *kabur ke pasar naik sepeda motor (baca: Supra X) sendiri*. Pulang-pulang sudah membawa bermacam-macam barang. Cantol sana, cantol sini, iket sana, iket sini, nenteng ini, nenteng itu…wuah, hebring deh bawaan beliau. Kalo saya lagi di rumah dan beliau sedang membawa sekarung besar tepung terigu atau kanji, beliau akan berteriak,”Piii…..Epi….!!” di depan warung *ibu punya warung kelonthong yang ditempatkannya di bagian paling depan, nyambung sama rumah*. Lalu, saya akan tergopoh-gopoh nyabet jilbab, rok atu celana panjang dan jaket atau kaos lengan panjang—masalah warna, nggak usah ditanya, kurang lebih harajuku kalau nggak mau dibilang tabrak lari—Ketika membuka pintu, wuahaha…rok hitam ibu sudah terlihat noda putihnya, kena serbuk-serbuk putih tepung yang ngeyel melarikan diri dari karung. Kemudian, tanpa basa-asam—eh, basa-basi maksudnya— ibu berkata,”Ni, bawain dulu tasnya…hati-hati, ada telurnya. Jangan sampai pecah ya..”*sudah ditranslet dalam bahasa Indonesia* Setelah beberapa detik kembali ke hadapannya, saya akan diajak ibu turut serta menjadi kuli—ngangkat karung penuh tepung—sumpah! berat!. Biasanya, ibu juga akan bercerita macam-macam tentang perjalanannya ke pasar. Jalan yang buruk rupa lah, kemajuan pasar, mas-mas penjaga toko grosir yang cakep dan mirip kayak kakakku lah *Kalo yang ini saya agak ragu*, atau malah bertutur begini,”Abis ini, ibu ke pasar Pl***h nganterin pesanan jarik ke bu *siapa…lupa*, kamu jaga warung. Nanti kalo mbah Sakiyem *langganan ibu* datang, kamu timbangin dulu tepungnya…ambilin apa aja keperluannya trus dicateti wae kalo nggak tahu harga-harganya. Nanti mbah Sakiyem juga tahu sendiri, biar itung-itungan sama ibu. Ya?” dan seperti sudah kewajiban sepertinya, saya bertanya,”Lama nggak, Bu?” Ibu langsung diplomatis,”Nggak…paling jam sembilan juga udah balik” ——>nglirik jam, 07.20an—-Sedikit cuplikan dari kesibukan ibu di secuil paginya. 

Itu masih biasa. Banyak ke-tidak biasaan yang ibu lakukan setelah itu. Misalnya,”Pi, hapenya kok nggak hidup-hidup sih? Nanti kalo bapak telfon gimana?” saya tengok hape yang disodorin beliau—-gublak—-low bateray. Ibu memang suka bingung tiap kali layar hape—yang dulunya hape saya—nggak memancarkan sinar biru ketika sekali pencet. Dari lagu kalimatnya, ibu khawatir setengah cemas kalo-kalo hapenya nggak hidup lagi. Dulu malah lebih bikin saya kepingkal-pingkal…dengan tingkat kecemasan lumayan tinggi dari biasanya, ibu menghadap saya yang lagi leyeh-leyeh lalu laporan,”Pii..hapene kenapa ini? Aduh, mati! Padahal barusan diisi bateray-nya. Dipencet-pencet nggak bisa…” saya agak mengerutkan kening sambil menekan tombol pojok kanan kemuadian bintang. Hidup-bateray full..”Nggak kenapa-napa kok, bu…”, “Lha itu kamu apain bisa hidup?”..”Nggak diapa-apain…cuma dibuka kuncinya. Soalnya tadi terkunci….bla-bla-bla” Jadilah saya sok-tau tentang hape. Semenjak itu, ibu menganggap saya ahli per-hape-an dan setiap ada hal janggal tentang hapenya, saya orang pertama yang diingat beliau—mungkin—:D. Padahal, saya bukan Hape-Holic. Ganti Hape kalo ada lungsuran—turunan dari kakak—atau ngepasi bapak dapet bonus hape dari pelanggannya. Sejak SMP, hal tersebut baru terjadi dua kali. 

Ibu berwajah asia tulen. Kulitnya termasuk tipe kuning langsat yang bersih untuk wanita Jawa—Satu hal yang saya syukuri bisa menuruni warna kulitnya, meski susah bersih dari jerawat sih :D—. Beliau adalah ibu tangguh yang memegang prinsip orang Timur *terutama masalah hubungan laki-laki dan perempuan*. Kepada kakak saya yang perempuan *karena banyak yang nge-fans* ibu selalu mewanti-wanti. Saya sampai geli sendiri kalo inget pas ibu mewanti-wanti kakak saya dulu. Hihihi, that’s not happen in me. Mungkin karena saya tidak menunjukkan gejala-gejala diapeli oleh teman laki-laki dan tidak menunjukkan sikap-sikap orang jatuh cinta secara gamblang, jadi sepertinya ibu nggak terlalu khawatir tentang saya. Beberapa waktu lalu, ibu malah bilang begini,”Kalau udah waktunya, nanti juga dateng sendiri kok” Wiihiiii….beda banget ma kakak perempuan saya yang diwanti-wanti dari A-Z. Sisi positifnya adalah itu artinya saya nggak membuat ibu saya khawatir tentang dunia percintaan remaja zaman metropolitan atau globalisasi? *entahlah, era kontaminasi juga nggak salah kayaknya*, sedangkan sisi negatifnya adalah ada kemungkinan ibu telah menyiapkan jodoh untuk saya—-Muke Lo Jauhhhh!!!—-

Begitulah ibu saya, Pribadi kuat yang tahu apa yang sedang ia lakukan. Mempercayai ada kekuatan lebih dari siapapun di dunia ini. Meyakini dan memasrahkan semua hal kepada The Power of Life. Ibu yang jatuh bangun, sesekali menangis di hadapan saya karena sesuatu yang menekannya, tapi tidak pernah kehilangan sinar cerianya saat bercerita lepas tentang jalanan menuju pasar, keanehan teman-teman pasarnya, kejengkelannya kalau nenek mulai protes ini itu seperti anak kecil, dan lain-lain. Ibu yang nggak feminim secara fisik. Ibu yang suka bingung kalo Hapenya mati. Benar, Ibu adalah orang yang sangat kompleks. Beliau punya banyak peran di panggung drama kehidupan ini, kadang sebagai satpam untuk keluarganya, kadang sebagai kuli yang memikul banyak masalah beserta solusinya, kadang sebagai pedagang yang jeli karena tidak mau menyerahkan anak-anaknya ke tangan yang salah, kadang sebagai monster yang menjaga rumah dari orang-orang yang bergelagat mau menipu barang dagangan, sering jadi ahli chef, pernah juga ibu jadi ratu sehari *saat pernikahan kakak perempuan saya* dan bapak jadi rajanya. Saya? jadi adik putri mahkota dong! Ibu yang sangat kuat kekuatan do’anya melebihi siapapun di dunia ini :D. Woahh, ibu jempolan yang kadang bikin geregetan tapi ngangenin. Cita-cita saya adalah berjumpa dengan beliau lagi di surga—hope—amin.